Kisah Relawan COVID-19 di Tegal: 9 Bulan Pisah Ranjang dengan Istri hingga Sering Dimarahi Warga

Salah seorang relawan penanganan COVID-19 di Kabupaten Tegal, Abdul Kholik, 40 tahun, bercerita tentang suka duka selama sembilan bulan menjadi menjalankan tugas. Sedihnya, selama Pandemi Corona ini, dia terpaksa tidur terpisah dengan sang istri tercinta.

Kholik kini bertugas sebagai Tim penanganan COVID-19 atau Tim Reaksi Cepat (TRC) di Puskemas Kecamatan Bumijawa. Dia juga menjadi koordinator relawan PMI Kabupaten Tegal.

“Saya menjadi relawan sejak 2010, Tapi di saat saat pendemi itu suka dukanya pasti ada. Di satu sisi kita harus menerapkan protokol kesehatan, bahkan waktu di rumah,” tutur Abdul Kholik saat berbincang dengan PanturaPost, Sabtu (5/12/2020).

Menurutnya, dalam keseharianya dia bertugas melakukan 3T yakni Tracing, Testing, Treatmen. Tracing, yakni menelusuri kasus untuk mengetahui dari mana pasien terpapar dan sudah kontak dengan siapa saja untuk mengerahui kontak eratnya. Testing, melakukan screening pemeriksaan baik berupa Rapid Test maupun PCR/Swab Test. Kemudian Treatment, merawat pasien.

“Jadi kegiatan setiap hari itu melakukan 3 T, itu sudah makanan setiap hari,” terangnya.
Dia menceritakan, saat menelusuri kasus COVID-19, dia mendatangi keluarga yang terpapar. Kerap kali mereka tidak mau untuk periksa dan bahkan banyak yang tidak jujur.

“Setiap melaksanakan 3T saya selalu meninggalkan nomor handpone. Agar masyarakat yang kita tracing itu bisa kooperatif. Tapi, ada juga warga yang telepon dan bilang, ‘gara-gara bapak datang ke rumah saya dikucilkan sama tetangga’. Ya, itu jadi makanan para relawan di masa pandemi, kalau dibilang relawan COVID-19 itu suka dimarahin, dimusuhin, dan bahkan dijauhkan oleh masyarakat, itu yang kami rasakan,” tutur dia.

Kholik bercerita, rutinitas setiap hari saat pulang rumah dia selalu menerapkan protokol kesehatan. Yakni langsung mandi, baju yang dipakai langsung direndam dan tidur pisah kamar dengan istri dan anak-anaknya. Bahkan, untuk alat makan pun dipisahkan.

“Proses protokol kesehatan itu saya terapkan sudah lama. Mau pulang malam atau tengah malam pasti langsung mandi. Tidur terpisah dan alat makan pun terpisah. Semua itu untuk mencegah penularan di keluarga,” ungkap dia.

Tidak hanya duka yang dia ceritakan. Ada juga kejadian lucu yang perna dia alami. Pada saat itu tim dia sedang melaksanakan penyemprotan disinfektan, dan tim kelelahan dan haus. Nah, pada saat membeli minuman tim tidak melepas APD yang dipakai.

“Jadi saat di warung itu, yang punya warung ketakutan dan lari karna tim pakai APD,” katanya.

Selama menjadi relawan COVID-19, dia mengaku sudah melaksanakan tes swab 5 kali. 4 tes swab hasilnya negatif dan untuk satu swab belum keluar hasilnya.

“Karena kami tidak hanya melaksanakan 3 T saja. Kami pun ikut memakamkan jenazah COVID-19 dan lainnya.”

Di Hari Relawan yang jatuh pada 5 Desember ini, dia berharap kepada semua rekan-rekannya untuk tetap kuat dan menjaga kesehatan. Karena tugas relawan saat ini lebih berat karena masa pandemi.

“Kita harus berjuang memutus rantai dan harus menjaga kondisi badan agar tidak tertular. Apalagi sudah masuk musim hujan. Jadi tugas relawan itu dobel. Satu sisi harus siaga penanganan COVID-19, satu sisi lagi harus siaga takut ada bencana alam,” pungkasnya. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*