Mendag Ungkap Biang Keladi Harga Cabai Merah Naik Double Digit

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi buka-bukaan tentang penyebab mahalnya harga cabai saat ini. Lonjakan disebut akubat kerusakan panen di sejumlah daerah memicu mahalnya harga cabai merah besar, cabai merah keriting, hingga cabai rawit merah.

“Kalau kita lihat, cabai merah naiknya double digit, terutama cabai rawit merah pada bulan lalu,” kata Mendag seperti melansir Antara di Jakarta, Senin (15/3/2021).

Lonjakan harga cabai dipicu kerusakan panen di beberapa wilayah penghasil cabai. Di Tuban, Kediri, Blitar, terjadi kerusakan panen kurang lebih 40 persen.

Tapi, di Wajo, Sulawesi Selatan, kerusakan panen cabai terjadi hingga kurang lebih 70 persen.

“Oleh karena itu, harga daripada cabai merah, cabai rawit merah, cabai merah keriting terjadi kenaikan harga yang stabil, tetapi tinggi,” tukas Mendag.

Namun demikian, Mendag mengatakan sentra cabai di Jawa Timur seluas 9.400 hektare (ha) akan memasuki masa panen.

Beberapa di antaranya yakni di Blitar dengan luas 2.800 ha, Kediri 1.800 ha, Malang 1.800 ha, Tuban 3.000 ha, Jawa Barat 2.000 ha, Pandeglang 500 ha, Garut 500 ha, dan Magelang 2.000 ha.

“Jadi artinya, tren daripada penurunan antara 10 Maret – 12 Maret akan terus terjadi penurunan. Dan yang saya takutkan bahkan ketika panen raya cabai, harganya malah di bawah standar yang sudah kita tentukan,” kata Lutfi.2 dari 3 halaman


Jelang Panen Raya, Mendag Khawatir Harga Cabai Bakal Anjlok

Pekerja memperlihatkan paket cabai rawit dalam Pasar Cabai Murah di Pasar Mitra Tani Klender, Duren Sawit, Jakarta, Rabu (10/3/2021). Dalam rangka menekan harga cabai di pasar, Kementan menggelar Pasar Cabai Murah di 34 lokasi Jakarta, Bogor dan Bekasi mulai 8-20 Maret. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, harga cabai rawit merah akan turun. Hal ini karena adanya panen raya di sejumlah daerah. Pada Maret ini, harga cabai turun 10 hingga 12 persen.

Namun ternyata, penurunan tersebut membuatnya khawatir. Hal ini karena ada kemungkinan harga cabai akan berada di bawah standar yang ditentukan. 

“Artinya tren penurunan antara 10 hingga 12 persen ini akan terus menjadi penurunan. Dan yang saya takutkan ketika hadapi bulan puasa dan Idul Fitri malah terjadi cabai panen raya besar dan harganya di bawah standar yang kita tentukan,” ujarnya, Jakarta, Senin (15/3/2021).

Adapun panen akan terjadi di sentra-sentra pertanian cabai merah, seperti sentra Jawa Timur yang luasnya 9.400 hektare (ha), di Blitar 2.800 ha, di Kediri 1.800 ha. Kemudian Malang 1.800. Selain itu di Jawa Barat 2.000 ha seperti di Garut 500 ha. Ada juga Jawa Tengah di Magelang 2.000 ha.

Selama beberapa bulan ini harga cabai mengalami kenaikan drastis, kata Lutfi, karena adanya gagal panen. Misalnya, Tuban, Kediri dan Blitar kurang lebih mengalami kerusakan panen hingga 40 persen sementara di Sulawesi Selatan rusak sampai 70 persen.

“Di Tuban, Kediri dan Blitar, Jawa TImur terjadi kerusakan panen kurang lebih 40 persen. Di Wajo, Sulawesi Selatan terjadi kerusakan kurang lebih 70 persen. Karena itu harga daripada cabai merah besar, cabai keriting, cabai rawit merah terjadi kenaikan harga yang stabil, tapi tinggi,” katanya.

Berdasarkan pemantauan harga oleh Kementerian Perdagangan, harga cabai rawit merah per 12 Maret 2021 sebesar Rp 96.247 per kilogram (kg), naik 22,48 persen dibandingkan per 11 Februari 2021 sebesar Rp 74.607 per kg. Namun jika dibandingkan dengan tren harian, harga cabai rawit merah diklaim sudah turun. Pada 10 Maret 2021, harga cabai rawit merah sebesar Rp 96.717 per kg.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*